Header Ads

Books of Prof.Dr.H.MOH.SYAIFUL SUBRON IRONI,M.Pd.i.







Perbedaan Persepsi dan Perspektif

Description: Perbedaan-Persepsi-dan-Perspektif
Perbedaan Utama – Persepsi vs Perspektif. Persepsi dan perspektif adalah dua kata yang berhubungan dengan cara kita memahami, dan menafsirkan sesuatu. Meskipun kedua kata ini terdengar dan terlihat serupa, keduanya tidak boleh digunakan secara bergantian.
Persepsi pada dasarnya adalah cara kita berpikir atau memahami seseorang atau sesuatu. Perspektif adalah cara kita memandang sesuatu atau sudut pandang kita. Ini adalah perbedaan utama antara persepsi dan perspektif. Adegan yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda oleh individu yang berbeda dengan perspektif dan persepsi yang berbeda. Dengan kata lain, persepsi dan perspektif mungkin berbeda menurut individu yang berbeda.
Description: Tabel Perbandingan Persepsi dan Perspektif




ONTOLOGI
Adalah  kebenaran suatu perkara
2 perspektif ontology
a.       Realisme  ( bagi realisme hanya ada 1 kebenaran )
b.      Relatifisme ( pecara terdapat bebagai jenis kebenaran )
Epistimologi
Adalah perspektif seorang pengkaji untuk melihat kebenaran


Retorika

Retorika (dari bahasa Yunani: ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul 'Grullos' atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader (orang yang mempersuasi) dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, kepercayaan dan pengharapan mereka.[1]Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan di atas) dan praktik kontemporer dari retorika yang termasuk analisis atas teks tertulis dan visual.
Sejarah[sunting | sunting sumberuraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di pulau Sicilia.[2] Tahun 427 SM Gorgias dikirim sebagai duta ke Athena.[2] Negeri itu sedang tumbuh sebagai Negara yang kaya.[2] Kelas pedagang cosmopolitan selain memiliki waktu luang lebih banyak, juga terbuka pada gagasan-gagasan baru.[2] Di Dewan Perwakilan Rakyat, di pengadilan, orang memerlukan kemampuan berpikir yang jernih dan logis, serta berbicara yang jelas dan persuasif.[2] Gorgias memenuhi kebutuhan “pasar” ini dengan mendirikan sekolah retorika. Gorgias menekankan dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromptu.[2] Ia meminta bayaran yang mahal, sekitar 10 Drachma ( $ 10.000) untuk seorang murid saja.[2] Bersama Protagoras dan kawan-kawan, Gorgias berpindah dari satu kota ke kota yang lain.[2] Mereka adalah "dosen-dosen terbang".[2]
Dalam doktrin retorika Aristoteles [3] terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.

Jenis jenis retorika
1.       Retorika forensik
Ialah keadaan dimana pembicara mendorong munculnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari pendengar
2.       Retorika epidektik
Ialah wacana yang berhubungan dengan tuduhan atau pujian
3.       Retorika deliberative
Ialah saat pembicara harus menentukan suatu tindakan yang harus
Diambil, sesuatu yang harus atau tidak boleh di lakukan oleh khalayak

Ada tiga bukti untuk melakukan retorika secara efektif di depan khalayak
1.       Ethos ( harus di percaya )
2.       Logos ( harus logi / masuk akal bukan di buat buat )
3.       Phatos ( berhubungan dengan emosi saat bercerita )
5 hukum retorika
1.       Penciptaan
2.       Pengaturan
3.       Gaya
4.       Penyampaian
5.       Ingatan


Antroposentris
Antroposentris adalah sebuah pandangan atau anggapan bahwa manusia sebagai pusat dari semuanya. Manusia menganggap bahwa manusia adalah makhluk yangpaling istimewa. Biosentris adalah sebuah keyakinan bahwa manusia memiliki hubungan yang sangat erat terhadap makhluk lainnya di alam semesta.

Massif adalah padat
Heteroseksualitas adalah ketertarikan wajar lawan jenis ( arti nya jika manusia normal pasti heteroseksualitas
Etika
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.[butuh rujukan] Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.[butuh rujukan]
St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita.[butuh rujukan] Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.[1] Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.[butuh rujukan]
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika.[butuh rujukan] Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi.[butuh rujukan] Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.[butuh rujukan] Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.[2]
Sebagai cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku manusia, etika memberikan standar atau penilaian terhadap perilaku tersebut. Oleh karena itu, etika terbagi menjadi empat klasifikasi yaitu:
·         Etika Deskriptif: Etika yang hanya menerangkan apa adanya tanpa memberikan penilaian terhadap objek yang diamati.
·         Etika Normatif: Etika yang mengemukakan suatu penilaian mana yang baik dan buruk, dan apa yang sebaiknya dilakukan oleh manusia.
·         Etika Individual: Etika yang objeknya manusia sebagai individualis. Berkaitan dengan makna dan tujuan hidp manusia
·         Etika Sosial: Etika yang membicarakan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial dan hubungan interaksinya dengan manusia lain. Baik dalam lingkup terkecil, keluarga, hingga yang terbesar bernegara.
Klasifikasi diatas menegaskan bahwa etika erat kaitannya dengan penilaian. Karena pada hakikatnya etika membicarakan sifat manusia sehingga seseorang bisa dikatakan baik, bijak, jahat, susila atau sebagainya. Secara khusus etika ada pada prinsip manusia sebagai subjek sekaligus objek, bagaimana manusia berperilaku atas tujuan untuk dirinya sendiri dan tujuan untuk kepentingan bersama.

Daftar isi

·         1Jenis etika
·         2Referensi
·         3Pranala luar

Jenis etika[sunting | sunting sumber]

Etika Filosofis[sunting | sunting sumber]

Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat.[butuh rujukan]
Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat.[butuh rujukan] Karena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan dua sifat etika:[3]
1. Non-empiris[butuh rujukan] Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang konkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang konkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala konkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang konkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2. Praktis[butuh rujukan] Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.

Etika Teologis[sunting | sunting sumber]

Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing.[butuh rujukan] Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.[4]
Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis.[5] Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis.[butuh rujukan] Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi.[butuh rujukan] Karena itu, etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris.[6] Etika teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku manusia.[butuh rujukan] Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.[7]
Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.[butuh rujukan]

Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis[sunting | sunting sumber]

Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.[butuh rujukan] Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:[8]
·         Revisionisme[butuh rujukan]
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.
·         Sintesis[butuh rujukan]
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.
·         Diaparalelisme[butuh rujukan]
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.
Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis.[butuh rujukan] Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat.[butuh rujukan] Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.[9]
Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya.[10] Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja.[butuh rujukan] Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.

Etika Terapan[sunting | sunting sumber]

Etika Terapan merupakan istilah baru, tapi sebetulnya yang dimaksudkan dengannya sama sekali bukan hal baru dalam sejarah Filsafat Moral. Sejak Plato dan Aristoteles sudah ditekankan bahwa etika merupakan filsafat praktis, artinya, filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang harus kita lakukan.[11]
Salah satu ciri khas etika terapan sekarang ini adalah kerja sama yang erat antara etika dan ilmu-ilmu lain. Etika Terapan tidak bisa dijalankan dengan baik tanpa kerja sama itu, karena ia harus membentuk pertimbangan tentang bidang yang sama sekali di luar perhatiannya.
Terdapat empat unsur dalam metode etika terapan[12]
1. Sikap Awal
Dalam usaha membentuk suatu pandangan beralasan tentang masalah etis apa pun, selalu ada suatu sikap awal. sikap ini bisa pro atau kontra bisa juga netral.
2. Informasi
Setelah pemikiran etis tergugah, unsur kedua yang dibutuhkan adalah informasi. hal ini terutama mendesak bagi masalah etis yang terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Melalui informasi kita dapat mengetahui bagaimana keadaan obyektif itu.
3. Norma-norma Moral
Norma-norma moral itu sudah diterima dalam masyarakat (jadi, tidak diciptakan untuk kesempatan ini), tapi harus diakui juga sebagai relevan untuk topik atau bidang yang khusus ini.
4. Logika
Etika Terapan harus bersifat logis juga. ini tentu tidak merupakan tuntutan khusus bagi etika saja. Logika dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan penalaran dan inkonsistensi yang barangkali terjadi dalam argumentasi.

FEMINISME
Ekofeminisme adalah teori yang mampu menjelaskan hubungan antara kaum perempuan dengan alam. Teori tersebut dicetuskan oleh Vandana Shiva yang merupakan seorang ilmuwan sosial berasal dari India.
Environmental Justice biasa disebut juga environmental equity yang diartikan sebagai hak untuk mendapatkan perlindungan dari bahaya lingkungan secara adil bagi individu,kelompok, atau masyarakat tanpa membedakan ras, bangsa, atau status ekonomi.

Environmental Aspects: Environmental Ethics. ... Menurut Soerjani, Etika Lingkungan adalah berbagai prinsip moral lingkungan, yang merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan.
Hierarki (bahasa Yunani: hierarchia (ἱεραρχία), dari hierarches, "pemimpin ritus suci, imam agung") adalah suatu susunan hal (objek, nama, nilai, kategori, dan sebagainya) di mana hal-hal tersebut dikemukakan sebagai berada di "atas," "bawah," atau "pada tingkat yang sama" dengan yang lainnya.
koherensi adalah keterpaduan dalam sebuah paragraf akan terpenuhi apabila kalimat-kalimat yang menyusun paragraf itu terjadi secara logis dan gramatical dan berkaitan satu sama lain untuk mendukung gagasan utama

Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda.
Mu'tazilah berasal dari I'tazala yang berarti pisah atau memisahkan diri, yng berarti juga menjauhkan diri secara teknis, istilah Mu'tazilah merujuk pada dua golongan: ... Wasil Bin Atha adalah orang pertama yang meletakkan dasar ajaran mu'tazilah
etika Nikomakea 
(bahasa Inggris: 'Nicomachean Ethics'), atau Ta Ethika, adalah karya Aristoteles tentang kebajikan dan karakter moral yang memainkan peranan penting dalam mendefinisikan etika Aristoteles. Kesepuluh buku yang menjadi etika ini didasarkan pada catatan-catatan dari kuliah-kuliahnya di Lyceum dan disunting atau dipersembahkan kepada anak lelaki Aristoteles, Nikomakus.
Etika Nikomakea memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang yang bajik untuk mengenali langkah terbaik yang perlu diambil. Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa ucaha mencapai eudaimonia, bila dipahami dengan tepat, akan menghasilkan perilaku yang bajik.
Etika ini masuk jenis
EUDAMONISME adalah kenyamanan, kebahagiaan. Maksuk nya ketika kita melakukan kebaikan kita akan merasa nyaman dan tentram, puas dan bahagian
Motto nya adalah menjadi orang baik itu baik
Teleologi berasal dari akar kata Yunani τέλος, telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan λόγος, logos, perkataan. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.
Ethica eudemia
Magna moralia

Aksiomatik

Kata aksioma berasal dari Bahasa Yunani αξιωμα (axioma), yang berarti dianggap berharga atau sesuai atau dianggap terbukti dengan sendirinya.[1] Kata ini berasal dari αξιοειν (axioein), yang berarti dianggap berharga, yang kemudian berasal dari αξιος (axios), yang berarti berharga. Di antara banyak filsuf Yunani, suatu aksioma adalah suatu pernyataan yang bisa dilihat kebenarannya tanpa perlu adanya bukti. Kata aksioma juga dimengerti dalam matematika. Kata aksioma dalam matematika juga disebut postulat. Aksioma diartikan juga sebagai suatu pernyataan yang memuat istilah dasar dan istilah terdefinisi dan tidak berdiri sendiri dan tidak diuji kebenarannya.[2] Akan tetapi, aksioma dalam matematika bukan berarti proposisi yang terbukti dengan sendirinya. Melainkan, suatu titik awal dari sistem logika. Misalnya, 1+1=2 Nama lain dari aksioma adalah postulat. Suatu aksioma adalah basis dari sistem logika formal yang bersama-sama dengan aturan inferensi mendefinisikan logika. pada akhirnya aksioma merupakan sebuah pernyataan yang sudah pasti kebenarannya.[3] istilah aksioma paling umum digunakan sebagi istilah dalam amtematika. Sasaran atau obyek penelahan matematika yang berupa fakta, konsep, operasi dan prinsip memerlukan metode tertentu dalam menemukan kebenaran atau keabsahan dari konsep yang terkandung didalamnya. Obyek penelaahan tersebut menggunakan simbol-simbol yang kosong dari arti, artinya bahwa setiap simbol yang digunakan dalam matematika merupakan simbol abstrak. Ciri ini yang memungkinkan matematika dapat memasuki wilayah bidang studi atau cabang ilmu lain. Pada hakekatnya berfikir matematika itu dilandasi oleh kesepakatan-kesepakatan yang disebut aksioma. Karena itu matematika merupakan sistem yang aksiomatik.[4] salah satu penomena tentang aksioma yang ada adalah Selama 2000 tahun aksioma tentang bilangan dan geometri dianggap sebagai suatu kebenaran yang pasti karena teorema merupakan konsekuensi logis dari aksioma, maka teoremapun dianggap sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan lagi.

Menjadi kebiasaan ( HABIT ) ialah prilaku yang sudah menjadi kebiasaan,
Sesuai dengan hakikat natural kita
2 kebijakan intelektual
 Shopia adalah kebijakan orang yang hatinya terangkat ke tingkat alam
Adiduniawi : kebijakan orang yang ber theoria
Phronensis : kemampuan orang untuk mengambil sikap  dan keputusan dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan keseharian


Kosmologi (dalam bahasa Yunani, κόσμος (kósmos), yang berarti "dunia", dan 'logos' artinya "ilmu") adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.

Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = 'panas' and dynamic = 'perubahan') adalah fisika energi, panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Termodinamika berhubungan dekat dengan mekanika statistik di mana hubungan termodinamika berasal.
Pada sistem tempat terjadinya proses perubahan wujud atau pertukaran energi, termodinamika klasik tidak berhubungan dengan kinetika reaksi (kecepatan suatu proses reaksi berlangsung). Karena itu, penggunaan istilah "termodinamika" biasanya merujuk pada termodinamika setimbang, yang mana konsep utamanya adalah proses kuasistatik, yang diidealkan. Sementara itu, termodinamika bergantung-waktu adalah termodinamika tak-setimbang.
Karena termodinamika tidak berhubungan dengan konsep waktu, telah diusulkan bahwa termodinamika setimbang seharusnya dinamakan termostatik.
Hukum termodinamika kebenarannya sangat umum, dan hukum-hukum ini tidak bergantung kepada rincian dari interaksi atau sistem yang diteliti. Ini berarti mereka dapat diterapkan ke sistem di mana seseorang tidak tahu apa pun kecuali perimbangan transfer energi dan wujud di antara mereka dan lingkungan. Contohnya termasuk perkiraan Einstein tentang emisi spontan dalam abad ke-20 dan riset sekarang ini tentang termodinamika benda hitam.
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah yang merupakan suatu proses bermeditasi merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan.
Dalam logika matematika, tautologi adalah suatu pernyataan majemuk yang bernilai benar untuk setiap kemungkinan. Jadi, tautologi berlawanan dengan kontradiksi. Hal ini dapat dibuktikan menggunakan tabel kebenaran ataupun sifat-sifat logika.
Post factum ialah kita ada untuk menjelaskan sesuatu dimasalalu supaya data sekarang fakta kita ada ini menjadi bermakna. After the fack, fakta nya ada baru di jelaskan , seperti detektif
Konspirasi ialah rencana diam diam
Kosmos ialah ada unsur keteraturan selaras indah baik secara visual maupun keteraturan matematis
Geilusak ialah perbandingan antara tekanan dan tempratur
Kontingensi ialah sesuatu itu bisa ada bisa tidak tetapi bergantung kepada sesuatu yang lain ( simpula kita itu bisa ada bisa tidak ada
Imperium (bahasa Latin: Imperium) mengacu pada sekelompok negara dan kelompok etnik yang menempati wilayah geografis sangat luas, yang dipimpin atau dikuasai oleh satu kekuatan politik. Kekuatan politik penguasa ini biasanya suatu monarki meskipun dapat juga berupa suatu oligarki.

Humanisme

Artikel ini berisi uraian tentang filsafat berorientasi manusia. Untuk Humanisme Renaisans, lihat Humanisme Renaisans.
Humanisme adalah sebuah pemikiran filsafat yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria dalam segala hal.[1] Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu.
Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia.
Humanisme sekuler mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekuler juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat.

Humanisme berasal dari latin, humanis; manusia, dan isme berarti paham atau aliran. Humanisme merupakan istilah yang sering digunakan pada kalangan massyarakat Indonesia sebagai suatu kata yang mengungkapkan tentang sesuatu yang berhubungan dengan manusia. adapun arti humanisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang seing di sebut KBBI yaitu aliran yg bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yg lebih baik.
Semula humanisme adalah gerakan dengan tujuan untuk mempromosikan harkat dan martabat manusia. Sebagai pemikiran etis yang menjunjung tinggi manusia. Humanisme menekankan harkat, peran, tanggugjawab menurut manusia. Menurut humanisme manusia mempuyai kedudukan yang istimewa dan berkemampuan lebih dari mahluk lainya karena mempunyai rohani. Pandangan humanisme membuat manusia sadar kembali tentang harkat dan martabat manusia sebagai mahluk rohani. Etika rohani mendasari manusia untuk bertangungjawab dalam kehidupan di dunia.
Adapun humanisme itu sendiri sangatlah berkaitan dengan kegiatan kehidupan masyarakat yang berkaitan eperti humanisme terkait pendidikan pembelajaran kepada para siswa, humanisme terkait keagamaan, hingga humanisme universal yang mencakup Satu Dunia, Satu Bangsa, Bangsa Manusia yang lahir di alam bumi ini sehingga, banyak yang menghubungkan antara humanisme dengan masalah masalah serta isu yang berhubungan dengan manusia.
Contohnya saja pada pendidikan pembelajaran, guru merupakan salah satu komponenen terpenting yang ada dalam system pembelajaran di sekolah karena apabila tidak ada guru proses pembelajaran tidak akan berjalan. Selain guru murid juga termasuk salah satu komponen penting karena, apa gunanya guru apabila tidak adanya murid untuk dididik sehingga dalam proses pembelajaran membutuhkan suatu hak dan kewajiban tentang kemanusian yang ada.

Humaniora

Humaniora adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia menjadi lebih manusiawi dan berbudaya.
Menurut bahasa latin, Humaniora biasa disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup studi agama, filsafat, seni, sejarah dan ilmu-ilmu bahasa.

Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya.Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata

Teologi (bahasa Yunani θεος, theos, "], Tuhan", dan λογια, logia, "kata-kata," "ucapan," atau "wacana") adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan (Lih. bawah, "Teologi dan agama-agama lain di luar agama Kristen"). Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama. Teologi memampukan seseorang untuk lebih memahami tradisi keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, menolong membuat perbandingan antara berbagai tradisi, melestarikan, memperbarui suatu tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau kebutuhan masa kini, atau untuk berbagai alasan lainnya.
Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani koine, tetapi lambat laun memeroleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis Kristen. Karena itu, penggunaan kata ini, khususnya di Barat, mempunyai latar belakang Kristen. Namun, pada masa kini istilah tersebut dapat digunakan untuk wacana yang berdasarkan nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama Kristen sendiri, disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya.
Dalam gereja Kristen, teologi mula-mula hanya membahas ajaran mengenai Allah, kemudian artinya menjadi lebih luas, yaitu membahas keseluruhan ajaran dan praktik Kristen.[1] Dalam upaya merumuskan apa itu ilmu teologi, maka ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan, yaitu tidak akan ada teologi Kristen tanpa keyakinan bahwa Allah bertindak atau berfirman secara khusus dalam Yesus Kristus yang menggenapi perjanjian dengan umat Israel.[1]
Pada Abad Pertengahan, teologi merupakan subyek utama di sekolah-sekolah universitas dan biasa disebut sebagai "The Queen of the Sciences". Dalam hal ini ilmu filsafatmerupakan dasar yang membantu pemikiran dalam teologi.

Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna.[1] Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuein yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan.[1] Jika dirunut lebih lanjut, kata kerja tersebut diambil dari nama Hermes, dewa Pengetahuan dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pemberi pemahaman kepada manusia terkait pesan yang disampaikan oleh para dewa-dewa di Olympus.[2] Fungsi Hermes adalah penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itu Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu. Berhasil-tidaknya misi itu sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu disampaikan. Oleh karena itu, hermeneutik pada akhirnya diartikan sebagai ‘proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti’.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebagai istilah ilmiah, Hermeneutika diperkenalkan pertama kali sejak munculnya buku dasar-dasar logika, Peri Hermeneias karya Aristoteles.[4] Sejak saat itu pula konsep logika dan penggunaan rasionalitas diperkenalkan sebagai dasar tindakan hermeneutis.[4]
Konsep ini terbawa pada tradisi beberapa agama ketika memasuki abad pertengahan (medieval age).[4] Hermeneutika diartikan sebagai tindakan memahami pesan yang disampaikan Tuhan dalam kitab suci-Nya secara rasional.[1] Dalam tradisi Kristen, sejak abad 3 M, Gereja yang kental dengan tradisi paripatetik menggunakan konsep tawaran Aristoteles ini untuk menginterpretasikan Al-kitab.[4] Sedangkan dalam tradisi filsafat Islam, ulama kalam menggunakan istilah Takwil sebagai ganti dari hermeneutika, untuk menjelaskan ayat-ayat Mutasyabbihat.[5]
Ketika Eropa memasuki masa pencerahan (rennaisance), dari akhir abad 18 M sampai awal 19 M, kajian-kajian hermeneutika yang dilakukan pada abad pertengahan dinilai tidak berbeda sama sekali dengan upaya para ahli Filologi Klasik.[1] Empat tingkatan interpretasi yang berkembang pada abad pertengahan, yaitu, literal eksegesis, allegoris eksegesis, tropologikal eksegegis, dan eskatologis eksegesis, direduksi menjadi Literal dan gramatikal eksegesis.[butuh rujukan] Pemahaman ini diawali oleh seorang ahli Filologi bernama Ernesti pada tahun 1761, dan terus dikembangkan oleh Friedrich August Wolf dan Friedrich Ast.[1]
Hermeneutika kemudian keluar dari disiplin filologi bahkan melampaui maksud dari empat tingkatan interpretasi abad pertengahan ketika Schleiermacher menyatakan bahwa proses interpretasi jauh lebih umum dari sekadar mencari makna dari sebuah teks. Ia kemudian menjadikan hermeneutika sebuah disiplin filsafat yang baru.[1][4] Hal tersebut disetujui dan dikembangkan oleh Wilhelm Dilthey di ujung abad 19 M.[1] Ia memadukan konsep sejarah dan filsafat serta menjauhi dogma metafisika untuk melahirkan pemahaman yang baru terhadap Hermeneutika.[1] Ia kemudian memahami bahwa proses hermeneutika adalah sesuatu yang menyejarah, sehingga harus terus-menerus berproses di setiap generasi.[1] Walaupun melahirkan pemahaman yang tumpang-tindih, hubungan keilmuan yang dinamis akan sangat berperan untuk menyatukan kembali pemahaman dalam sudut pandang yang bersifat obyektif.[6]
Description: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/63/Lingkaran_Interpretasi.jpg/220px-Lingkaran_Interpretasi.jpg
hal yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasi
Abad 20 M, ditandai sebagai era post-modern dalam sejarah filsafat barat, fenomenologi lahir sebagai paham baru yang merambah dunia hermeneutika.[1] Adalah Martin Heidegger, yang mengatakan bahwa proses Hermeneutis merupakan proses pengungkapan jati diri dan permasalahan eksistensi manusia yang sesungguhnya.[1] Usahanya mendapat respon postif dari Hans-Georg Gadamer yang kemudian memadukan Hermeneutika Heidegger dengan konsep estetika.[1] Keduanya sama-sama sepakat bahwa Yang-Ada berusaha menunjukkan dirinya sendiri melalui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia, terutama bahasa.[1]
Hermeneutika di akhir abad 20 M mengalami pembaharuan pembahasan ketika Paul Ricoeur memperkenalkan teorinya.[6] Ia kembali mendefinisikan Hermeneutika sebagai cara menginterpretasi teks, hanya saja, cara cakupan teks lebih luas dari yang dimaksudkan oleh para cendikiawan abad pertengahan maupun modern dan sedikit lebih sempit jika dibandingkan dengan yang dimaksudkan oleh Heidegger.[6] Teks yang dikaji dalam hermeneutik Ricoeur bisa berupa teks baku sebagaimana umumnya, bisa berupa simbol, maupun mitos.[1] Tujuannya sangat sederhana, yaitu memahami realitas yang sesungguhnya di balik keberadaan teks tersebut.[1]

Surat An-Nisa Ayat 3
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
Arab-Latin: Wa in khiftum allā tuqsiṭụ fil-yatāmā fangkiḥụ mā ṭāba lakum minan-nisā`i maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā', fa in khiftum allā ta'dilụ fa wāḥidatan au mā malakat aimānukum, żālika adnā allā ta'ụlụ
Terjemah Arti: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Surat An-Nisa Ayat 129 وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ
تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Arab-Latin: Wa lan tastaṭī'ū an ta'dilụ bainan-nisā`i walau ḥaraṣtum fa lā tamīlụ kullal-maili fa tażarụhā kal-mu'allaqah, wa in tuṣliḥụ wa tattaqụ fa innallāha kāna gafụrar raḥīmā Terjemah
Arti: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semiotika

Semiotika atau ilmu ketandaan (juga disebut studi semiotik dan dalam tradisi Saussurean disebut semiologi) adalah studi tentang makna keputusan. Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi. Semiotika berkaitan erat dengan bidang linguistik, yang untuk sebagian, mempelajari struktur dan makna bahasa yang lebih spesifik. Namun, berbeda dari linguistik, semiotika juga mempelajari sistem-sistem tanda non-linguistik. Semiotika sering dibagi menjadi tiga cabang:
·         Semantik: hubungan antara tanda dan hal-hal yang mereka lihat; denotata mereka, atau makna
·         Sintaksis: hubungan antara tanda-tanda dalam struktur formal
·         Pragmatik: hubungan antara tanda dan tanda-menggunakan agen
Semiotika sering dipandang memiliki dimensi antropologis penting; misalnya, Umberto Eco mengusulkan bahwa setiap fenomena budaya dapat dipelajari sebagai komunikasi.[1]Namun, beberapa ahli semiotik fokus pada dimensi logis dari ilmu pengetahuan. Mereka juga menguji area untuk ilmu kehidupan - seperti bagaimana membuat prediksi tentang organisme, dan beradaptasi, semiotik relung mereka di dunia (lihat semiosis). Secara umum, teori-teori semiotik mengambil tanda-tanda atau sistem tanda sebagai objek studi mereka: komunikasi informasi dalam organisme hidup tercakup dalam biosemiotik (termasuk zoosemiotik).
Sintaksis adalah cabang dari semiotika yang berhubungan dengan sifat-sifat formal tanda dan simbol.[2] Lebih tepatnya, Sintaksis berkaitan dengan "aturan yang mengatur bagaimana kata-kata digabungkan untuk membentuk frasa dan kalimat".[3]
Charles Morris menambahkan bahwa semantik berkaitan dengan hubungan tanda-tanda untuk designata mereka dan benda-benda yang memungkinkan atau menunjukkan; dan, penawaran pragmatik dengan aspek biotik dari semiosis, yaitu dengan semua fenomena psikologis, biologis, dan sosiologis yang terjadi dalam fungsi tanda-tanda.

Daftar isi

·         1Terminologi
·         2Formulasi
·         3Referensi
·         4Pranala luar

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Istilah, yang dieja semeiotika, berasal dari bahasa Yunani σημειωτικός sēmeiōtikos, "tanda-tanda jeli"[4] (dari σημεῖον sēmeion, "tanda, cap"[5]) dan pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris oleh Henry Stubbes[6] dalam arti yang sangat tepat untuk menunjukkan cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan interpretasi dari tanda-tanda.[7]John Locke menggunakan istilah sem(e)iotike dalam Buku 4, Bab 21 dari An Essay Concerning Human Understanding (1690).[8][9]

Formulasi[sunting | sunting sumber]

Description: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5e/Kstovo-BusStation-Sinks-1444.JPG/220px-Kstovo-BusStation-Sinks-1444.JPG
Kode warna air panas dan dingin dari air kran adalah umum di banyak budaya, tetapi, pada contoh ini menunjukkan, kode diberikan karena ada konteks. Dua kran air mungkin dijual dalam satu set kode, tetapi kode ini tidak dapat digunakan (dan diabaikan), karena ada pasokan air tunggal.
Ahli semiotik mengklasifikasikan tanda-tanda atau sistem-sistem tanda dalam kaitannya dengan cara mereka ditransmisikan (lihat modalitas). Proses membawa makna tergantung pada penggunaan kode yang mungkin berupa suara individu atau surat-surat yang manusia gunakan untuk membentuk kata-kata, gerakan tubuh mereka yang dilakukan untuk menunjukkan sikap atau emosi, atau bahkan sesuatu yang umum berupa pakaian yang mereka kenakan. Untuk koin kata yang menyebut sesuatu (lihat kata-kata leksikal), suatu komunitas/masyarakat harus menyepakati arti sederhana (makna denotatif) dalam bahasa mereka, tetapi kata yang dapat mengirimkan arti bahwa hanya dalam struktur gramatikal bahasa dan kode (lihat sintaks dan semantik). Kode juga mewakili nilai-nilai budaya, dan dapat menambah nuansa baru terhadap konotasi bagi setiap aspek kehidupan.
Untuk menjelaskan hubungan antara semiotika dan studi komunikasi, komunikasi didefinisikan sebagai proses mentransfer data dan-atau pemaknaan dari sumber ke penerima. Oleh karena itu, teori komunikasi membangun model berdasarkan kode, media, dan konteks untuk menjelaskan aspek biologi, psikologi, dan mekanik yang terlibat. Kedua disiplin ilmu ini juga mengakui bahwa proses teknis tidak dapat dipisahkan dari fakta bahwa penerima harus membaca makna data, yaitu, dapat membedakan data sebagai bentuk yang penting, dan membuat makna dari itu sendiri. Ini berarti bahwa ada tumpang tindih yang saling diperlukan antara semiotika dan komunikasi. Memang, banyak konsep bersama, meskipun dalam setiap bidang penekanannya berbeda. Dalam Messages and Meanings: An Introduction to Semiotics, Marcel Danesi (1994) menyarankan bahwa prioritas ahli semiotik 'yang pertama untuk mempelajari makna, dan komunikasi yang kedua. Sebuah pandangan yang lebih ekstrem yang ditawarkan oleh Jean-Jacques Nattiez (1987; diterjemahkan 1990: 16.), sebagai seorang musikolog, yang dianggap sebagai studi teoretis komunikasi yang tidak relevan dengan aplikasinya semiotika.
Semiotika berbeda dari linguistik, dalam hal ini, generalisasi definisi tanda untuk mencakup tanda-tanda di media atau modalitas sensorik. Oleh karena itu, memperluas berbagai sistem tanda dan hubungan tanda, dan memperluas definisi bahasa berapa kuantitas untuk luasnya analogis atau rasa metafora.
Definisi Peirce dari istilah "semiotik" sebagai studi tentang kegunaan yang diperlukan dari tanda-tanda juga memiliki efek pembeda disiplin ilmu dari linguistik sebagai studi fitur kontingen tentang bahasa dunia yang terjadi dan diperoleh dalam perjalanan evolusi mereka.
Dari sudut pandang subjektif, mungkin yang lebih sulit adalah perbedaan antara semiotika dan filsafat bahasa. Dalam arti, perbedaannya terletak antara tradisi-tradisi yang terpisah dan bukan subyek-subyeknya. Penulis yang berbeda telah menyebut diri mereka sebagai "filsuf bahasa" atau "semiotika". Perbedaan ini tidak sesuai dengan pemisahan antara filsafat analitik dan kontinental.
Dilihat lebih dekat, mungkin ditemukan ada beberapa perbedaan mengenai subjek. Filsafat bahasa membayarnya dengan lebih memperhatikan bahasa alami atau bahasa pada umumnya, sedangkan semiotika sangat berkonsentrasi dengan signifikansi non-linguistik. Filsafat bahasa juga dikenakan koneksinya untuk linguistik, sedangkan semiotika mungkin tampak lebih dekat ke beberapa humaniora (termasuk teori sastra) dan antropologi budaya.
Semiosis atau semeiosis adalah proses yang membentuk makna dari ketakutan setiap organisme dunia melalui tanda-tanda. Para ahli yang telah berbicara tentang semiosis dalam sub-teori semiotika mereka termasuk CS Peirce, John Deely, dan Umberto Eco. Semiotika kognitif menggabungkan metode dan teori-teori yang dikembangkan dalam disiplin metode kognitif dan teori-teori yang dikembangkan dalam semiotika dan humaniora, dengan memberikan informasi baru ke dalam arti yang dimengerti manusia dan manifestasinya dalam praktik-praktik budaya. Penelitian tentang semiotika kognitif menyatukan semiotika dari linguistik, ilmu kognitif, dan disiplin terkait pada konsep platform meta-teoretis umum, metode, dan data bersama.
Semiotika kognitif juga dapat dilihat sebagai studi tentang makna keputusan dengan menggunakan dan mengintegrasikan metode dan teori-teori yang dikembangkan dalam ilmu kognitif. Hal ini melibatkan analisis konseptual dan tekstual serta penyelidikan eksperimental. Semiotika kognitif awalnya dikembangkan di Pusat Semiotika di Aarhus University (Denmark), dengan hubungan penting bersama Pusat Fungsional Terpadu Neuroscience (CFIN) di Rumah Sakit Aarhus. Di antara ahli semiotik kognitif menonjol antara lain Per Aage Brandt, Svend Østergaard, Peer Bundgård, Frederik Stjernfelt, Mikkel Wallentin, Kristian Tylén, Riccardo Fusaroli, dan Jordan Zlatev. Zlatev kemudian dalam kerjasama dengan Göran Sonesson didirikan CCS (Pusat Cognitive Semiotika) di Universitas Lund, Swedia.


Hukum acara

Hukum acara (dikenal juga sebagai hukum prosedur atau peraturan keadilan) adalah serangkaian aturan yang mengikat dan mengatur tata cara dijalankannya persidangan pidana, perdata, maupun tata usaha negara. Hukum acara dibuat untuk menjamin adanya sebuah proses hukum yang semestinya dalam menegakkan hukum.
Hukum acara berbeda dengan hukum materil yang mengatur mengenai substansi hukum itu sendiri, yang pada gilirannya akan diuji melalui hukum acara. Dalam hal ini, beberapa pakar mendefinisikan hukum acara sebagai "cara mempertahankan" sebuah hukum.[1][2]
Hukum acara pada umumnya mengatur cabang-cabang hukum yang umum, seperti hukum acara pidana dan hukum acara perdata. Masing-masing negara yang memiliki yurisdiksi dan kewenangan mahkamah yang beragam memiliki aturan yang berbeda-beda pula.

Daftar isi

·         1Gambaran umum
·         2Hukum acara Indonesia
·         3Rujukan
·         4Bacaan lanjutan

Gambaran umum[sunting | sunting sumber]

Meskipun perkara-perkara hukum diselesaikan dengan cara yang berbeda-beda, hukum acara di seluruh dunia umumnya memiliki unsur-unsur yang serupa. Hukum acara memastikan ditegakkannya hukum secara adil dan semestinya. Tanpa adanya keadaan luar biasa, sebuah pengadilan tidak dapat menghukum, secara pidana atau perdata, seorang subjek hukum yang belum/tidak diberitahu mengenai dakwaan yang dikenakan atas mereka, atau yang tidak mendapatkan peluang secara adil untuk membela diri dan mengajukan pembuktian. Hukum acara mengatur tata cara dan susur galur pendakwaan, pemberitahuan, pembuktian, dan pengujian hukum materil demi terlaksananya hukum.
Pada intinya, hukum acara juga mengatur mengenai cara terbaik untuk mendistribusikan sumber daya hukum secara adil dan merata. Dalam hukum Amerika Serikat, misalnya, kasus-kasus pidana diprioritaskan atas kasus perdata, karena terdakwa dalam kasus pidana berpeluang untuk kehilangan kemerdekaannya, sehingga harus diberikan peluang pertama untuk disidangkan perkaranya (primum remedium). Hal ini berkebalikan dengan hukum Indonesia, di mana hukum pidana bersifat sebagai ultimum remedium (solusi terakhir), sehingga kasus pidana disidangkan sebagai jalan terakhir setelah seluruh perkara hukum lain telah selesai.[3]

Anomie

Anomie adalah sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Émile Durkheim untuk menggambarkan keadaan yang kacau, tanpa peraturan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani a-: "tanpa", dan nomos: "hukum" atau "peraturan". Anomie adalah "kondisi di mana masyarakat tidak memberikan petunjuk moral yang banyak kepada individu".[1] Hal ini berkembang dari konflik sistem kepercayaan dan menyebabkan rusaknya hubungan sosial antara seorang individu dan komunitas (baik sosialisasi primer maupun ekonomi). Untuk seseorang, ada kemungkinan berlanjut kepada kemampuan yang abnormal untuk menyatu dalam situasi normatif dunia sosial e.g., skenario personal tanpa aturan yang berakhir pada fragmentasi identitas sosial dan penolakan nilai.[2]
Istilah ini secara umum dipahami sebagai "ketiadaan norma" dan dipercaya dipopulerkan oleh Durkheim dalam bukunya yang berpengaruh, Le Suicide (1897). Namun, Durkheim pertama kali memperkenalkan konsep anomie dalam karyanya pada tahun 1893, De la division du travail social. Durkheim tidak pernah menggunakan istilah "ketiadaan norma"; ia mendeskripsikan anomie sebagai"kekacauan" dan "keinginan yang tak terpuaskan".[3] Durkheim menggunakan istilah "penyakit dari yang tanpa batas" karena hasrat tanpa batas tidak akan pernah terpenuhi, melainkan hanya akan semakin intens.[4]
Menurut Durkheim, anomie muncul secara umum dari ketidakcocokan antara standar personal atau kelompok dan standar sosial yang lebih luas, atau ketiadaan etika sosial, yang membuat deregulasi moral dan ketiadaan aspirasi yang logis. Ini adalah kondisi hasil nurtur:
Sebagian besar sosiolog mengasosiasikan istilah ini dengan Durkheim, yang menggunakan konsep ini untuk membicarakan bagaimana tindakan individu sesuai, atau terintegrasi, dengan sistem norma dan praktik sosial... anomie adalah ketidakcocokan, bukan hanya ketiadaan norma. Oleh karena itu, masyarakat dengan kekakuan yang terlalu besar dan kebijakan individu yang kecil juga dapat menghasilkan suatu anomie...[5]
Power Tends to Corrupt
Kekuasaan Cenderung Merusak
SEMPALAN dalil Lord Acton power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely itu tampaknya tepat untuk menggambarkan penguasa yang ingin menyalahgunakan kekuasaannya.
Korupsi pada dalil Acton tersebut bukan hanya terkait uang, melainkan juga politik atau kebijakan.Lebih parah lagi jika korupsi kekuasaan itu dibalut oleh slogan ini negara demokrasi Bung, siapa pun bisa melontarkan gagasan . Anggapan terjadinya korupsi kekuasaan itu muncul saat Ruhut Sitompul, salah seorang Ketua DPP Partai Demokrat, melontarkan gagasan untuk mengamendemen konstitusi atau Undang- Undang Negara Republik Indonesia 1945, khususnya Pasal 7 yang memungkinkan masa jabatan presiden bukan dibatasi hanya dua kali masa jabatan,melainkan tiga kali.
Ini untuk memungkinkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maju kembali menjadi calon presiden pada periode 2014- 2019.Ketika serangan terhadap dirinya datang bertubi-tubi, dengan santainya Ruhut menyatakan di radio Trijaya FM, Ini negara demokrasi, Bung! Siapa pun bebas menyatakan pendapat. Ruhut tampaknya lupa bahwa gagasan pembatasan masa jabatan presiden dari yang tidak terbatas menjadi hanya dua kali masa jabatan adalah salah satu komitmen reformasi yang bergulir sejak Mei 1998. Tidak sedikit tokoh partai dan organisasi kemasyarakatan yang menilai bahwa apa yang dilakukan Ruhut Sitompul bukanlah aksi individual Ruhut semata.
Bukan mustahil ini merupakan agenda dari Partai Demokrat atau bahkan SBY sendiri.Ruhut hanya melakukan proof balloon atau testing the water yang pada intinya mengetes opini publik mengenai hal itu. Kecurigaan mengenai keinginan untuk melakukan amendemen konstitusi itu sebenarnya sudah muncul sejak awal pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Saat itu,Oktober 2009,tampak kasatmata betapa Presiden SBY berupaya sekuat tenaga agar PDIP mau bergabung ke dalam kabinet. Jika itu terjadi, koalisi yang terbentuk adalah koalisi bulat. Dengan demikian akan lebih mudah bagi SBY untuk menggalang kekuatan partai-partai koalisi melakukan amendemen konstitusi.
Namun, ketegasan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menolak untuk bergabung di dalam koalisi menyebabkan hanya Taufik Kiemas yang terpilih menjadi Ketua MPR. Kini, ketika tentangan publik begitu kuat atas gagasan masa jabatan presiden tiga kali tersebut, SBY berupaya menunjukkan wajahnya yang demokratis seolaholah menolak amendemen konstitusi itu. Tentangan publik itu bukan tanpa alasan yang kuat. Kita tidak ingin seorang Presiden RI pasca-Reformasi dapat bertahan lebih dari dua kali masa jabatan. Kita tidak ingin ada lagi diktator-diktator politik baru di negeri ini. Sekali kita mengamendemen konstitusi terkait masa jabatan presiden, bukan mustahil batasan itu tidak terbatas lagi seperti pada era Soekarno atau Soeharto.
Sebenarnya, jika SBY memiliki keberanian politik, walau itu hal yang mustahil, bisa saja ia mengeluarkan Dekrit Presiden Kembali ke UUD 1945 seperti yang dilakukan Presiden Soekarno pada 5 Juli 1959. Melalui dekrit itu sudah pasti ia dapat menjadi kandidat presiden kembali pada 2014. Persoalan lain yang terkait dengan korupsi kekuasaan terkait dengan pengurangan hukuman terhadap para koruptor melalui pemberian remisi dan grasi. Jika dilihat dari aturan hukum yang ada, pemerintah beralasan bahwa hal itu sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
Namun bila kita memandang korupsi sebagai kejahatan luar biasa,tidaklah mungkin para koruptor tersebut mendapatkan perlakuan yang luar biasa pula dari pemerintah Apa yang terjadi saat ini menunjukkan betapa pemerintah memperlakukan korupsi sebagai kejahatan yang biasa dan para koruptornya diperlakukan sangat luar biasa.Ada yang belum menikmati sepertiga masa tahanan sudah mendapatkan remisi atau pengurangan hukuman. Ada yang tidak melalui pendapat lain (second opinion) dari dokter lain, tetapi sudah diberi grasi atas dasar kemanusiaan .
Kebijakan pemberian remisi dan grasi terhadap para koruptor dapat berimplikasi pada beberapa hal: pertama, pemerintah dapat dinilai menjadi kekuatan politik yang menafikan usaha keras Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pemberantasan korupsi di Indonesia; kedua, rakyat akan semakin tidak percaya kepada politik pemberantasan korupsi yang dijalankan oleh pemerintahan SBY-Boediono; ketiga, upaya untuk menghapus Indonesia sebagai negara paling korup di Asia juga semakin sulit dilaksanakan di masa mendatang, khususnya oleh pemerintah saat ini.
Ketidaktegasan Presiden SBY dalam pemberantasan korupsi sebenarnya sudah tampak sejak tidak adanya ketegasan pemerintah mengusut rekening gendut para jenderal polisi dan menguak tabir mafia hukum yang selama ini terjadi di jajaran para penegak hukum. Ini semakin menambah penilaian masyarakat betapa tidak seriusnya pemerintah dalam pemberantasan korupsi di Tanah Air. Dua fenomena di atas,gagasan untuk mengamandemen konstitusi tertkait dengan masa jabatan presiden dan pemberian remisi dan grasi kepada para koruptor bukan saja bertentangan dengan upaya kita untuk melakukan reformasi total di negeri ini, tetapi dapat dikategorikan sebagai bagian dari korupsi politik .
Di sini menunjukkan tanpa adanya keteguhan masyarakat untuk mengawasi jalannya pemerintahan, berbagai bentuk korupsi kekuasaan itu akan terus terjadi. Seperti dikatakan Lord Acton, Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely! ()

Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disoleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya.usun
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1.   Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2.   Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3.   Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hierarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai “pemahaman” yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan “pengetahuan” yang ada pada tingkatan pertama.

Daftar isi

·         1Domain Kognitif
·         2Domain Afektif
·         3Domain Psikomotor
·         4Rujukan

Domain Kognitif[sunting | sunting sumber]

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

Pengetahuan (Knowledge)[sunting | sunting sumber]

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.

Pemahaman (Comprehension)[sunting | sunting sumber]

Berisikan kemampuan mendemonstrasikan fakta dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan, menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan utama
·         Terjemahan
·         Pemaknaan
·         Ekstrapolasi
Pertanyaan seperti: Membandingkan manfaat mengkonsumsi apel dan jeruk terhadap kesehatan

Aplikasi (Application)[sunting | sunting sumber]

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.

Analisis (Analysis)[sunting | sunting sumber]

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.

Sintesis (Synthesis)[sunting | sunting sumber]

Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesis akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

Evaluasi (Evaluation)[sunting | sunting sumber]

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.

Domain Afektif[sunting | sunting sumber]

Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

Penerimaan (Receiving/Attending)[sunting | sunting sumber]

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

Tanggapan (Responding)[sunting | sunting sumber]

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

Penghargaan (Valuing)[sunting | sunting sumber]

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

Pengorganisasian (Organization)[sunting | sunting sumber]

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)[sunting | sunting sumber]

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

Domain Psikomotor[sunting | sunting sumber]

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh Dave pada tahun 1970 berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

Persepsi (Perception)[sunting | sunting sumber]

Penggunaan alat indra untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

Kesiapan (Set)[sunting | sunting sumber]

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

Respon Terpimpin (Guided Response)[sunting | sunting sumber]

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

Mekanisme (Mechanism)[sunting | sunting sumber]

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)[sunting | sunting sumber]

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

Penyesuaian (Adaptation)[sunting | sunting sumber]

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

Penciptaan (Origination)[sunting | sunting sumber]

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi, kondisi atau permasalahan tertentu.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Bloom, B. S. ed. et al. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: Handbook 1, Cognitive Domain. New York: David McKay.
Gronlund, N. E. (1978). Stating Objectives for Classroom Instruction 2nd ed. New York: Macmilan Publishing.
Krathwohl, D. R. ed. et al. (1964), Taxonomy of Educational Objectives: Handbook II, Affective Domain. New York: David McKay.
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Gendler, Margaret E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York: McMillan Publishing.
Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung.
Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya. W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasind
,,,,
Antinomi ( bahasa Yunani ἀντ ant, antí , "menentang, berlawanan dengan", dan νόμος, nómos , "hukum") mengacu pada ketidaksesuaian timbal balik antara dua undang-undang. [1] Ini adalah istilah yang digunakan dalam logika dan epistemologi , khususnya dalam filsafat Kant .
Ada banyak contoh antinomi. Ungkapan kontradiktif diri seperti "Tidak ada kebenaran absolut" dapat dianggap sebagai antinomi karena pernyataan ini menyatakan dalam dirinya sendiri sebagai kebenaran absolut, dan karena itu menyangkal kebenaran apa pun dalam pernyataannya. Paradoks seperti " kalimat ini salah " juga dapat dianggap sebagai antinomi; agar kalimat itu benar, itu pasti salah, dan sebaliknya.

Isi


Kant menggunakan

Informasi lebih lanjut: Antinomi Kant
Istilah ini memperoleh makna khusus dalam filosofi Immanuel Kant (1724-1804), yang menggunakannya untuk menggambarkan hasil yang sama rasional tetapi bertentangan dengan penerapan ke alam pikiran murni kategori atau kriteria alasan yang tepat untuk alam semesta dari persepsi atau pengalaman yang masuk akal (fenomena). [2] Alasan empiris di sini tidak dapat memainkan peran membangun kebenaran rasional karena melampaui pengalaman yang mungkin dan diterapkan pada bidang apa yang melampaui itu.
Untuk Kant ada empat antinomi , [3] [4] [5] terhubung dengan: [6]
·         keterbatasan alam semesta sehubungan dengan ruang dan waktu
·         teori bahwa keseluruhan terdiri dari atom-atom yang tidak dapat dibagi (padahal, pada kenyataannya, tidak ada yang seperti itu)
·         masalah kehendak bebas dalam kaitannya dengan kausalitas universal
·         keberadaan makhluk universal [2]
Dalam setiap antinomi, tesis dipertentangkan oleh antitesis. Sebagai contoh: dalam antinomi pertama, Kant membuktikan tesis bahwa waktu harus memiliki permulaan dengan menunjukkan bahwa jika waktu tidak memiliki permulaan, maka ketidakterbatasan akan berlalu hingga saat ini. Ini adalah kontradiksi nyata karena infinity tidak dapat, menurut definisi, diselesaikan oleh "sintesis berturut-turut" - tetapi hanya sintesis finalisasi seperti itu diperlukan oleh pandangan bahwa waktu itu tidak terbatas; jadi tesisnya terbukti. Kemudian ia membuktikan kebalikannya, bahwa waktu tidak memiliki awal, dengan menunjukkan bahwa jika waktu memiliki permulaan, maka pasti ada "waktu kosong" yang darinya waktu muncul. Ini tidak koheren (untuk Kant) karena alasan berikut: Karena, tentu saja, tidak ada waktu berlalu dalam kekosongan pretemporal ini, maka tidak ada perubahan, dan karena itu tidak ada (termasuk waktu) yang akan terjadi: sehingga antitesis terbukti. Alasan membuat klaim yang sama untuk setiap bukti, karena keduanya benar, sehingga pertanyaan tentang batas waktu harus dianggap sebagai tidak berarti.
Ini adalah bagian dari program kritis Kant untuk menentukan batasan-batasan pada sains dan penyelidikan filosofis. Kontradiksi-kontradiksi ini inheren dalam nalar ketika diterapkan pada dunia sebagaimana adanya, terlepas dari persepsi apa pun tentang hal itu (ini berkaitan dengan perbedaan antara fenomena dan noumena ). Tujuan Kant dalam filsafat kritisnya adalah untuk mengidentifikasi klaim apa yang dan tidak dibenarkan, dan antinomi adalah contoh ilustrasi proyeknya yang lebih besar.

Marx menggunakan

Namun, Kant bukan satu-satunya filsuf yang menggunakan istilah itu. Penggunaan antinomi yang terkenal lainnya adalah oleh Karl Marx, dalam Capital Volume One, dalam bab berjudul "Hari Kerja". [7] Menurut Marx, produksi kapitalis mendukung "pernyataan tentang hak atas hari kerja tanpa batas, dan pernyataan tentang hak atas hari kerja terbatas, keduanya dengan justifikasi yang sama". [8] Furner menekankan bahwa tesis dan antitesis dari antinomi ini tidak bertentangan, melainkan "terdiri atas penegasan hak atas negara-negara yang bertentangan secara kontradiktif". [9]

Lihat juga

Ketidakcocokan satu sama lain
·         Hukum:
·         Logika:
o    Logika ketel
o    Paradoks
·         Agama:
o    Antinomianisme (Kekristenan)
·         Lainnya:
o    Oxymoron
o    Ikatan ganda
mikrometer
mickroskop optik

megavirus  ukuran 440 nanometer
bakteri yofack  200 nanometer


mickroskop elektron
3 nanometer = untai DNA

molekul air = 280 pikometer
atom hidrogen ber diameter = 31 pikometer terdiri dari
2 unsur 1 proton bermuatan positif dan elektron negatif

elektron memiliki ukuran = 5 femtometer 1/5 triliun milimeter

proton =

100 attometer dimana 1 attometer = 1 kuadriliun milimeter

Quark up = 1 attometer
Quark downs = 1 attometer

400 zeptometer = Quark Strange
100 zeptometer = Quark Charms
30 zeptometer = Quark  Bottoms

100 yoktometer = Quark Top
1 yoktometer = Neutrino

ranah kuantum

Dawai
busa kuantum =


satuan terkecil = Panjang Planck

No comments

Powered by Blogger.